
Dikisahkan,
pada saat perang tabuk, yaitu perang terakhir yang Rasulullah saw. ikut di
dalamnya. Untuk menghadapi kerajaan Romawi yang merupakan kerajaan terkuat di
muka bumi pada masa itu, umat Islam memerlukan persediaan dan dana yang besar.
Pada saat itu terjadi adegan yang sangat menarik.
Pada
finalnya, sahabat Abu Bakar bersaksi di depan Rasulullah saw. bahwasanya dia
menyerahkan seluruh hartanya untuk Islam. Rasulullahpun bertanya kepada sahabat
Abu Bakar, “Tidakkan engkau tinggalkan untuk ahli keluargamu....?”. sahabat Abu
Bakar menjawab. “Aku serahkan seluruh keluarga kepada Allah dan RasulNya.” Semua
sahabat diam, dan sahabat Umar berkomentar “Memang untuk urusan akhirat aku
selalu kalah dengamu”.
Sebegitulah
para sahabat “bersaing” melakukan sesuatu yang bersifat akhirat. 99,0%
kehidupanya mutlak untuk urusan akhirat. Tidak ada keraguan dalam hati mereka.
Karena yakin, akhirat lebih kekal, sedang dunia hanya sementara.
Ketika
sang adik membeli rumah megah, kebun dan pekarangan di dunia, sang kakak juga
membeli rumah yang besar, kebun, dan pekarangan tapi di surga, entah dengan cara apa dia
membelinya, entah dengan sedekah atau dengan jalan yang lainya.
Keduanya
saling berlomba mengivestasikan harta kekayaan mereka. Pada akhirnya, harta
mereka habis, rumah, perkebunan, dan pekarangan yang dimiliki oleh sang adik
habis dan rusak. Itulah dunia, eksistensinya ada habisnya. Sang adikpun menjadi
stres/gila, namun tidak dengan sang kakak, yang yakin bahwa harta yang dulu dia
miliki tetap ada, dan mungkin malah lebih banyak dari sebelumnya.
Berbeda
dengan kebanyakan masyarakat islam sekarang yang hanya menggunakan 0,99%
hidupnya untuk akhirat, dan 99,0% untuk urusan dunia. Bagaimana puluhan triliun
tebuang sia-sia. Berapa triliun uang dari para partai yang ada di negara kita,
yang terinvestasi tidak ada kejelasannya. Padaha semua tahu dunia akan rusak,
dunia pasti habis. tidakkah para caleg ataupun capres yang mengambil sedikit
pelajaran dari kisah-kisah sahabat zaman dahulu, ataupun kisah-kisah yang
terdapat dalam kitab suci alquran, yang “katanya” sebagai pedoman agamanya.
Hasil
riset Lembaga Peyelidik Ekonomi dan
Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) mengungkapkan bahwa setiap caleg DPR
rata-rata harus mengeluarkan dana sebesar Rp.1,18 miliar - Rp.4,6 miliar
untuk melakukan kampanye agar dapat menduduki kursi legislatif. Dengan rincian
biaya kampanye setiap caleg DPR yakni: kurang dari Rp.787 juta (termasuk
kurang), Rp.787 juta - Rp.1,18 miliar (optimal), Rp.1,18 miliar - Rp.4,6 miliar
(wajar), Rp.4,6 miliar - Rp.9,3 milir (tidak wajar) dan lebih dari Rp.9,3
miliar (tidak rasional).
Angka
tersebut naik empat kali lipat daripada pemilu 2009 yang hanya berkisar Rp.250
juta per caleg DPR, dan Rp. 170 juta per caleg DPRD Provinsi. Diperkirakan
juga, total dana yang akan digulirkan pada Pemilu 2014 yakni sebesar Rp.115
triliun atau naik tiga kali lipat dari Pemilu 2009.
Jika
uang sebanyak itu dibuang percuma tanpa ada hasil yang memuaskannya, siapa yang
berani jamin bahwa mereka tidak stres. Banyak yang stres, banyak yang gila,
semuanya karena harapnnya terhadap urusan dunia. Entah berapa ratus juta, miliar,
atau triliun rupiah yang mereka keluarkan. Yang pasti, ketika pada hasilnya
tidak seperti apa yang mereka harapkan, akan semakin banyak orang stres di
negeri ini. itulah akibatnya jika harta diinvestasikan dengan dunia.
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.