![]() |
You And I |
Tidak ada yang tahu, selama ini aku tetap menyembunyikannya
dengan rapi. Hidup dengan paksaan memang tak menyenangkan, menjalankan
hari-hari tanpa ada rasa suka dari hati memang terasa tidak berarti, ingin
cepat berlalu, selesai dan berganti dengan yang baru. Terkekang, terpaksa,
namun ku lakukan semuanya. Untuknya, aku hanya ingin membuatnya bahagia, meski
hatiku terluka, meski terasa sakit untuk menjalankan semua.
Aku hanya ingin membuatnya bahagia, meski diri ini terasa
menderita, aku hanya ingin mengikuti apa yang dikatakanya, mengikuti apa
kemauan dirinya. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya memakan makanan yang
tidak kita suka, bahkan makanan yang membuat alergi pada tubuh kita, selama ini
semua itu aku lakukan, mungkin dengan terpaksa, entahlah, aku hanya ingin
membuatnya bahagia.
Selama ini harus menjalani hidup dalam kekangan
dalam dunia kebebasan, aku pun ingin seperti yang lainya, bisa memilih sesuka
hatinya. Namun aku hanya ingin membuatnya bahagia, pilihanku, keinginanku,
kesukaanku, mereka tak setuju dengan semua itu. Bosan, itu sudah pasti, namun
ini konsekwensi, janji harus ditepati. Tak ada yang lain yang bisa aku lakukan
untuk membuatnya bahagia selain menuruti apa kemaunya, meski aku tak ingin dan
tak mau itu.
Semakin dikekang semakin aku patuh, diri ini semakin rapuh,
Namun aku ingin membuatnya bahagia. Kini aku tak merasa se-cerdas, se-pintar,
se-pandai dahulu, aku kecewa, aku ingin tapi aku tak bisa, demi menuruti
kemauan mereka, demi ingin melihat mereka bahagia, aku harus berkorban, mesti
sekarang aku bodoh, meski sekarang aku tak mampu.
Tak ada yang tahu kehidupanku selama ini, aku ingin bebas.
menjalani hari-hari seperti dulu mungkin menyenangkan, aku kangen aku rindu
semua itu, namun aku telah komitmen dan konsisten untuk selalu seperti apa yang
di inginkannya.
Beralih, berpindah menuruti keinginannya, menjalaninya dengan
penuh terpaksa. Aku hanya ingin membuatnya bahagia.
Semua itu menjadi lebih sakit, ketika dia tak pernah
merasa pengorbanan yang telah aku lakukan, kadang dia malah memanfaatkan. Dan
hari-hari itu datang, dia selalu bilang, dan aku hanya menuruti apa yang dia
inginkan.
“kenapa kau harus melakukan semua ini....? bukankah ini
semua bukan kemauanmu, kenapa kau harus tenggelam dalam paksaan.....? bukankah
kau mampu berenang dalam kebebasa.....? mengapa kau harus hanyut dalam
perkataannya, bukannkah kau mampu melawan arus ucapannya....? mengapa dan
mengapa, ayo jawab jangan hanya diam saja”. sebuah botol minuman
mencabik-cabikku dengan ribuan tanyanya.
Aku hanya diam dan terus menegukkan tetes-tetes air yang
ada di dalamnya. Hari-hari terasa terus seperti ini, semuanya menjadi asing
semuanya berubah ketika dia yang indah itu libur tak menemuiku.
Aku menjadi orang yang jarang mengurusi diri, berpakaian
apa adanya berjalan kesana sini tanpa tujuan yang pasti, jika dalam sebuah
cerita aku bagaikan Qais (majnun) yang gila karena mencari Laila.
Semua orang memandangku dengan pandangan haru, terlebih
ketika mereka semua mendengar kisahku yang sering ia kaitkan dengan sebuah
lagu, “baru ku sadari cintaku bertepuk sebelah tangan, kau buat remuk seluruh
hatiku”. Hah, semua itu tak ada pengaruhnya, aku tetap tergila-gila kepadanya
dan tetap ingin membuatnya bahagia.
Botol minuman itu pergi dari tanganku. “heh, mau
kemana.....?” tanyakau tak begitu bersemangat.
“bukan urusanmu, aku ingin memberitahu kepadanya, tentang
rasa, tentang cinta yang kini mampu membuatmu buta”. Jawabnya bergegas pergi meninggalkanku.
Hah......., aku mendesis, semuanya tak pernah mengerti
perasaanku, semua tak tahu bagaimana jika hati telah terketuk, terbuka, dan
tercuri, untuk mengembalikannya jalanya hanya mati.
Aku ini hamba sahaya, yang hanya akan tunduk oleh
majikannya, bulan tak lagi bisa menghiburku, bintang tak lagi bisa mengendalikanku,
malam tak lagi bisa menyimpan kesedihanku, mendungpun tak lagi bisa membasahi
hatiku yang kering karena kurang siraman cinta.
Meskipun purnama, meskipun pelangi, cahaya dan warnanya
tetap saja tak mampu membuatku lebih terang dan tak pernah merubah hari-hariku
untuk menjadi lebih berwarna.
Satu dua detik berlalu, botol minuman itu kembali dengan
tertunduk lesu. “jika hidup ini adil, keadilan itu mungkin tak ada dalam hidupmu”.
Ucapnya mencoba mengahayati kehidupanku.
“Apa maksudmu, adakah kau mau berkata bahwa Tuhan tak
adil terhadap kita....?” aku mulai serius menanggapi.
“adakah kau tahu apa yang baru ia katakan kepadaku, adakah
kau tahu apa perasaanya terhadapmu, adakah kau tahu tentang dunianya tanpamu,
dia tak pernah punya perasaan apa-apa kepadamu, malah dia hanya memperbudakmu,
dia hanya ingin seseorang yang hanya ia cintai, dan orang itu bukan kamu,
jadi.....”.
“cukup!” aku tak pernah tahu, dan tak pernah ingin tahu
tentang hal itu, aku hanya mencintainya, dan hanya ingin membuatnya bahagia.
Ini semua urusanku sakit dan nikmat itu rasaku, aku hanya ingin membuatnya
bahaggia.
Botol itu hanya menggelengkan kepala. “namaku botol, aku
beragrummentasi bahwa aku Bodoh dan Tolol, aku dan hanya aku, ternyata semua
itu salah, ada yang lebih bodoh dan tolol dari pada aku, yaitu kamu”. Ucapnya
sedikit kecewa dengan sikapku.
Aku hanya tertawa, dan tawa itu hilang ke arah semesta,
semua masih heran denganku, tentang rasa semuanya masih belum benar-benar
merasakannya, adakah di dunia ini hanya hatiku saja yang tercuri....? Tuhan
Engkau sungguh adil sekali, andai semua orang hatinya tercuri sepertiku
bagaimana kehidupan yang akan berlalu.
Botolpun
tak pernah berfikir jika air yang ada di dalamnya telah hilang karena terminum
oleh rongga yang kering, seperti hatiku yang hilang tercuri oleh maling.
Biarkan aku hidup untuk menjadi budaknya, biarkan dan biarkan, aku hanya ingin
membuatnya bahagia.
“kau
bukan pencuri, namun kenapa kau curi hatiku”. Aku membatin. Tak terasa
butiran-butiran hangat mulai luntur dari pipiku......!
Sabtu, 22 juni 2013 : 21:58
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.