deep.com |
Cahaya, saat
diriku tak berdaya,
Dalam persta
hura-hura
Dalam kemiskinan
mental atau-pun spiritual
Cahaya, ketika
gelap menatap
Memahamimu dengan
kedua mataku
Mendengar suaramu
dengan kedua telingaku
Padahal kau dan
aku tahu
dunia itu
tersekat ruang dan waktu
Cahaya, nafsu
membumbung
Langkahmu membimbing
Membuatku terombang
ambing
Cahaya, betapa
benyak hal yang kita nikmati saat tak berdaya
Bagaikan kita menikmati
indahnya hari raya
Cahaya, aku masih
ingat waktu
Teringat juga
ucapanmu,
“bertemu dan
berpisah itu satu,
pergi ke dunia
lain itu cita-citaku,
hingga akhir kita
akan tetap menjalani:
jalanku dan
jalanmu”
Cahaya, kini tiba
waktunya,
Ya, saat diriku
tak berdaya
Langkahmu
Satu demi satu
Menjauh
Cahaya, kau
terbang
Bukan entah
kemana
Cahaya, kau
pergi,
buatku lalai,
Cahya, bukan
untuk apa-apa
Sekedar menyekat
peluh
Disaat aku butuh
Cahaya, saat ini
diriku benar-benar tak berdaya,
Kini aku
benar-benar terlelap
Karena terlalu
menanggung harap
Cahaya 99 itu
angka sempurna
Filosofinya adalah
asmaul husna
Cahaya, kini
kunikmati ragam ujian
Untuk warna-warna
anugerah pujian
Cahaya, hati dan
jiwamu lepas bebas
Meninggalkanku tanpa
bekas
Biarkan itu
menjadi rasa
Yang tak perlu ku
terjemahkan dalam kata-kata
Masalalu membuatku
mampu menghargai waktu
Jadikan derita
sebagai kereta pembawa berita
kutemukan
matahari
Karena aku
melihat cahayanya
Namun tidak
denganmu
Cahaya, Siapa kau
sebenarnya
Datang disaat
diriku tak berdaya
Ahad, 08/09/2013
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.