Senin pagi 09:38
Tak tahu harus nulis apa, rasanya
buaanyyaaakkk banget. Sampe g tahu mana dulu yang harus ditulis. Penting,
penting semua, dan harus segera, sebagai kenangan dan catatan nyata.

Tuhan membuatnya sedemikian hebat, urut,
runtut, dan pasti bertanggung jawab. Aku yakin ini belum ending, ini masih
proses, jika dalam sebuah cerita ini adalah puncak dari masalah, entah apa
namanya lupa. Yang pasti seperti itulah.
Aku tenang, tenang sekali. Entahlah, Tuhan
membuatnya seperti itu, mengalirkan cerita seperti menyanyikan lagu yang sudah
dihapal saja, begitu menarik dan, dan mudah mengalun.

Aku jadi sadar, andai akhir-akhir ini Tuhan
tak sedekat ini, pasti aku goyah, dan entah apa yang terjadi, mengertilah aku
itu liar banget, tapi lain ketika Tuhan telah hadir di setiap hari, bahkan
larut malam.
Aku benar-benar terkejut, tak biasanya
begini, ucapku begitu. Eh, ternyata dia pengen menghiburku. Dan aku benar-benar
terhibur dengan alur ceritanya. Sampai membuat orang lain menangis, tapi aku
tersenyum karena aku telah jadi mainan Tuhan. Wah lucu banget.
Aku jadi pasrah, karena tak kurasakan nikmat
yang sangat, kecuali ketika dekat dengannya. Nikmat banget, semoga kalian bisa
merasakan itu, kalian tak akan sedih, tak akan.
Akhirnya aku awali dengan menyebut namanya,
dan akan menerima keputusan cukup hanya karena dia, aku tak berharap apapun,
aku tak ingin dibawa rasa ambisi, atau nafsu yang sangat kuat. Bukan karena
apapun, hanya tulus karenanya, maka aku sangat yakin, ketika ini benar-benar
baik, pasti akan ada jalan kemudahan untuk menuju itu. Buktinya, komputer ini,
komputer yang tak buat nulis saat ini.
Ketika semua telah berjalan begitu rapinya.
Eh, ternyata Tuhan menyiapkan komputer, aku tahu maksudnya “berlaga”, pasti aku
disuruh nulis yang aku rasakan, atau perjalanan hidup yang begitu menegangkan.

Banyak jalan sampai kesini, hari ini. Semoga
saja aku dapat menuliskannya.
Termakasih Tuhan, kau telah membuat hidupku
penuh dengan harapan dan kembali kepadamu. Kamu pasti tertawakan melihatku
begini, untunglah kamu mendekat terlebih dahulu, hingga aku sadar, semua ini
keinginanmu.
So, aku nyantai saja. Biasa-biasa saja. Yah,
seperti tak terjadi apa-apa. Bukan karena aku tak cinta ataupun cinta dan
pengorbanan itu hilang begitu saja, bukan, memang bukan, karena aku tahu Tuhan
akan membuat cerita ini lebih indah. Aku yakin itu.
Maka kuserahkan semuanya kepada Tuhan.
Love U, mmmuuuuaaacccchhhh..... Tuhan.
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.