Bismillah......
Ternyata malam
telah larut..........
Diruang yang
kecil itu, hm... ruang yang menghadap ke arah timur itu, dengan cat hijau di
bagian luar dan warna putih di bagian dalam, sebuah ruangan yang di bagian
depannya bertembokkan kaca berdaun pintu dua, kanan dan kirinya didominasi
dengan kaca-kaca, ruangan yang hampir 70% terdiri dari kaca itu, ruang
berlantai putih dengan rak buku dibagian pojok selatan menghadap arah timur
berjejer rapi buku-buku di dalamnya dan sebelah utaranya berdiri sebuah meja
komputer dengan dua komputer jadul di atasnya. Di ruang yang kecil yang
mempunyai luas 7x5 meter itu, tujubelas remaja berada di dalamnya namun satu
persatu musnah hilang meninggalkan jejak dalam serat, menyisakan delapan biji
yang yakin akan tumbuh dan berbuah berakar teguh dan bercabang menjulang ke langit.
Delapan itu
masih terus membaca masih terus bertanya masih terus berjalan dan haus akan
ilmu pengetahuan. Delapan itu masih mencari jati dirinya tetap tenang dalam
satu maqom keilmuan. Delapan itu masih dengan kebiasaannya, Mahfudz masih
dengan cerita-ceritanya, masih merangkai huruf demi huruf di keybordnya di
depan kumputer jadul di sebelah utara, Moti masih
dengan bukunya, masih tentang biografi idolanya, masih dengan buku-buku sosial
polotiknya di depan rak buku di sebelah selatan itu, Toni (jawazim)
masih berpuisi merajuk serat menyimpanya di dalam sahabat, sahabat ilusi atau
yang masyhur dengan diary, Billi masih
dunia imajinasinya khayalan tingkat tingginya dengan humor konyol cirikhasnya, Tomy masih
dengan design grapicnya dengan movie makernya, masih dengan dunia vectornya, Habib masih
dengan kepingan-kepingan buku tentang siapa aku, masih dalam pencarian dimana
aku hendak pergi , duduk rapi bersandar membelakangi meja komputer. Dan Aku masih
sibuk dengan tulisan ini tentang mereka, waskita dan diriku sendiri. Najib masih
mencari-cari sesuatu yang dirasa cocok dengannya di rak buku di sebelah selatan
itu.

“Waskita dalam
catatan harian kita”. Ucapnya mengeja kumpulan huruf-huruf yang ada di cover
buku tersebut.
Tidak mereka
sadari kata-kata Najib tadi Mengalihkan perhatian teman-temannya yang yang
sedang serius dengan duniannya sendiri.
Semuanya
berjalan meninggalkan keseriusan menuju sebuah buku fenomenal.
Halaman pertama
terbuka, sebuah puisi menyalami mereka.
“biarkan aku
yang membaca”. Ucap Tony antusias.
Kawan
Telah tiba satnya kita dewasa
Mampu memahami beda
Antara berkah dan musibah
Karuni dan petaka
Mana yang mestinya membuat tertawa
Atau malah mengalirkan air mata
Kawan
Mari kita buka catatan
Kita tulis semua pesan
Yang telah tuhan sampaikan
Lewat tiap detik episode peran
Yang kita mainkan dalam kehidupan
Kawan
Mari kita bealajar begandengan tangan
Perjalanan ini masih panjang
Gunung lembah dan sahara menghadang
Jauh lebih mudah kita hadapi jika tidak sendirian
Kawan
Mari kita angkat sauh
Negeri impian kita maih jauh
Bagaimana mungkin bisa berlabuh
Jika dayung tak segera kita kayuh
Kawan
Mari terbangkan ruh
Kita tinggalkan kubangan nafsu
Menaiki awan menembus galaksi
Dari sana kita lihat bumi
Dari cara pandang para wali
Kawan
Mari kita mulai membaca
Mengeja semesta
Menata alif ba ta cinta
Mencari” sang pencipta
Kawan bersama tiap rinai doa
Ada namaMU diiringi pinta
Semoga kita tetap bersama
Mesti dimana kita berada
Semuanya hanya
diam, terbawa suasana mengikuti alur puisi yang di baca Fatony. Dia
melanjutkan.

Fathoni melanjutkan.
“Di dalam ruang yang kecil ini kita meninggalkan berjuta kenangan, hingga
hari-harinya menyuguhkan sebuah potongan potongan. Potongan-potongannya tak
akan pernah kita lupakan, simak sama-sama dari sini kita berjalan terus
berjalan. Kawan, mari kita buka catatan, kita tulis semua pesan yang telah
tuhan sampaikan lewat tiap detik episode peran Yang kita mainkan. Dalam
kehidupan sehari-hari kita berbicara tentang mimpi, cinta, kehidupan, gosip,
fantasi, dan studi.”
“Saat raga ini
bersatu berbagi bersama kalian, kakiku yang akan berjalan lebih jauh dari
biasanya, tanganku akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mataku akan menatap
tajam lebih lama dari biasanya, hatiku akan lebih peka merasa lebih dari
biasanya, lapisan tekat yang akan berubah seribu kali lebih keras dari baja,
mulut yang akan selalu berdo’a lebih bermunajat dari biasanya.“
Potongan-potongan
keajaiban hati telah tertinggal di antara keindahan yang telah kita lewati,
menyentuh hati ini, bersemayam di dalamnya. Aku masih bisa merasa, potongan-potongan
itu ada di dua (2) Mei, serpihan-serpihannya ada di sebuah istana yang kita
bangun, sebuah istana bernama Waskita, kalian ingatkan sebelum semua berjalan
dengan normal semestinya, kita berkumpul bersama, bermusyawarah tentang masa
depan, tentang siapa dirikita.
Tujubelas, kita
memilihnya dengan berharap kepada tujubelas rokaat sholat fardlu, yang mungkin
tujubelas itu kini tidak lagi bersama, namun itu hanya sebatas raga, hati kita
tak pernah berpisah. Kawan, kalian masih ingat tujubelas itu siapa saja....?
Rudi, Saiful huda, Atho`ur rahman, Fatoni, Ainun najib, Sajidin, Tomy
(jawazim), Tamami (Moti), Arip, Habib, Umar, Irfan, Ridlouan, Mahfudz, Hady,
Faisal dan Billy lengkap kan.... kalian masiih ingatkan....?
Waktu itu kita
masih sama-sama tak tahu apa-apa, kita hanya sering coba dan mencoba, di dalam
ruangan istana anak-anak raja biasa bermain di pekarangannya, belajar bersama,
berbudaya, mencari bahasa dan sastra, inggris jepang, arab, mandarin juga.
Guru-guru kita, adakah kalian masih mengingatnya...? kita awali belajar di
mushola berbaur didasar-dasar lantai tanpa meja ataupun kain helai.
Waktupun terus
berjalan membuat kita semakin mengenal, semuanya, tak bisa ku sebutkan terlalu
banyak dan berkesan. Ilmu itu datang dengan sendirinya seiring kita berjalan
menjalaninya, kita banyak belajar dari kehidupan dari pengalaman, memang kita
hanyalah sebuah komunitas yang terbuang.
“asu....!”
billy tiba-tiba mengeluarkan kata-kata sopannya, “aku nangis cuk, melas temen
awak ndewek yo, wes kate lali aku nek tau koyo ngono” lanjutnya
“iyo cuk, asem,
nak jarene khairil anwar kita ini adalah binatang jalang yang terbuang.” Tambah
Jawazim agak puitis.
“Wes-wes,
terusno zim, wes kadong terbawa suasana kie” pinta moti berambisi.
“Dua mei
berjalan terus seperti air mengalir dari hulu ke hilir melewati hari-hari yang
pastinya akan tetap kita kenang hinga hari tua nanti, juni, juli agustus,
bulan-bulan berganti dari jalan kita kembali ke kerajaan, kita tempati istana
lagi, kini base came kita telah sempurna, meja, alas, kaca, pintu, jenedela,
rak buku, komputer dan lain sebagainya, semuanya telah sempurna, kita bisa
bermain belajar di istana kita sesuka hati kita.”
Lomba itu
berjalan dan berakhir sudah, kita tak dapat apa-apa, kelihatanya, sejatinya
kita mengukir suatu yang belum terukirkan sebelumnya, kita masih memikirkan
ibadah kita dari pada sebuah lomba, kita beda, itu yang tak pernah di lakukan
kebanyaakan orang, kita melakukan hal yang sepesial kawan, yang orang lain tak
ada yang melakukannya, mungkin kita yang pertama kawan, dan semoga saja banyak
orang lain yang mengikuti kita. Itu perjalanan singkat kita yang aku yakin
kalian tak akan melupakannya.”
“waktupun terus
berjalan dan kita terus berjalan melewati detik-detik episode kehidupan,
kenagan-kenangannya, potongan-potongan itu, serpihan-serpihannya ada di sebuah
desa kecil, di tengah-tengahnya terdapat sebuah peternakan, waktu itu kita
sering mencoba, terlebih kita suka wawancara, tawa kita masih terdengar sampai
sekarang, kekonyolannya tak pernah bisa hilang.
“Bertanya
tentang limbah, tentang pupuk, tentang kebijakan, tentang gaya hidup jaman
sekarang, tentang semuannya, kita lakukan dengan suka cita, videonya masih
tersimpan dan tertata rapi di file-file karya kita. Foto-fotonya kita sebar ke
dalam dunia maya, itu semua yang tak pernah kita temukan di dunia sekolahan.”
“Serpihan-serpihannya
ada di sawah-sawah, tentang mata pencaharian, kita mendatanginya, di dunia batu
bata, kita mulai bertanya, mengumpulkan narasumbernya dan mempersiapkan
reporternya. Hahahhaha, konyol sekali, kita menggunakan alat apa adanya.
Orang-orang pada bertanya mengenai apa yang kita lakukan, kita hanya
menjawabnya dengan senyum keyakinan, kita lebih kreatif kita lebih bebas, kita
lebih merdeka.”
“Waktu masih
terus berjalan banyak hal yang telah kita lakukan, kenangan-kenangannya tak sepenuhnya bisa aku tuliskan, banyak
sekali yang telah kita lewati hingga sampai pada episode berstudy ke luar
negeri (Salatiga).”
“Potongan-potongannya
ada di rute-rute jalan ke salatiga, serpihan-serpihannya ada di gubug
penantian, tawa-tawa di dalam bus jatirogo-bojonegoro, serpihan-serpihannya ada
di terminal pengasingan, ada di stasiun bojonegoro sampai tawang semarang.”
“Jarum jam
menunjukkan pukul 13:35 seiring berjalannya waktu di dalam kereta ekonomi itu
kita tertawa, bercanda, clelek-an, berpose, menggoda para
bidadari yang terlahir di bumi, tawa kita kadang membuat orang lain jadi tidak
tenang, “aduh kenapa ada anak-anak gila di sini, apa dia sedang lari dari
rumahsakit jiwa ya” batin mereka.”
“Sesekali para
penjual nasi bungkus dan minuman-minuman botol itu lewat sambil menawarkan
dagangannya ramah. “MR Cool, MR Coolllll......” suara dan auranya membuat kita
gelagapan, rasa dan getarannya kita bawa sampai ke kota Salatiga. Setasiun demi
stasiun telah kita lewati, kota demi kota kita lalui jua, detik-detik tidak
berlangsung lama, namun tawa kita tak ada habisnya.”
“Stasiun tawang
Semarang, kita berhenti untuk berganti posisi, alamat yang kita tuju kita tidak
tahu, namun tawa kita tak pernah surut akan hal itu, serasa hidup di surga
detik-detikpun tak ada yang tak bahagia.”
“Dari kereta
kita beralih ke angkotan kota, dari angkotan kota kita berpindah bus terminal
semarang, menuju terminal Tingkir kota Salatiga, memang ini bukan yang pertama
kalinya, kita pernah ke sana sebelumnya tapi bukan dengan ini caranya, kita
benar-benar tak tahu jalan, malam mulai lebih kelam, jarum jam terus berjalan
dari enam, tuju, delapan, sembilan, dan berhenti pada angka satu dan
kekosongan.”
“Kita merasa
hafal dengan tempat itu, dengan PeDenya kita tak pernah bertanya, padahal para
pepatah sering berkata “malu bertanya sesat di jalan” tapi kita tetap
memaksakan.”
“Akhirnya waktu
krusial itu kita lewati juga, bersama tukang ojek kita menuju tujuan kita.
Malam telah larut melarutkan tawa kita yang sedari tadi tak ada habisnya.”
“Kita sampai di
tempat tujuan. Salam mengawali ucapan kita, setelah mendengar jawabnya kita
memasukinya berbincang bercakap cukup lama dan berakhir ke tempat terindah,
“kamar tamu”. Ingat saja mereka, Kepala rumah tangga Bapak Bahrudin selaku
pendiri komunitas belajar yang kita ambil pelajaran, Ibu rumah tangga yang kita
tak pernah tahu namanya “hahahaha”, Mbak Fany n Mas Sayigh
(Ghiyas).”

“Dari rencana
kita cukup menginap dua atau tiga hari saja, namun dunia yang tak sama membuat
kita merasa nyaman di sana, hari-hari berlalu disana kita banyak menemukan
sesuatu. Mulai dari yang serius, konyol, tolol dan yang tak pernah kitatemui
sebelumnya.”
“Serpihan-serpihannya
ada di pagi pertama di indahnya mentari pagi di bawah gunung yang hijau menarik
hati “Merbabu”, kita tak pernah menemukan itu di dunia kita, kita merasakan
kehadirannya saat di Salatiga.”
“Pagi membuat
perut lapar bersama tawa yang membuat kita terkapar, kita tak pernah menemukan
makanan yang seunik di sanana, kita bisa makan sepuasnya, karena kemurah
meriahannya, soto seribu limaratus, gorenagan sebesar sandal hanya Rp300 tigaratus,
kemurahannya membuat kita semakin betah di sanana.”
“Hari berganti
hari, selama di sana kita selalu melakukan rutinitas yang sama yang beda dari
yang kita lakukan di Waskita.”
“Serpihan-serpihannya
ada di setiap jam pagi, kita mulai dari jam setengah tiga, kita mulai dengan
tawa di samping-samping kita para tetangga masih dengan bunga mimpinya, kita
mulai berdiskusi tentang humor dan rangakaina tipuan hati.”
“Berlanjut jam
empat seperempat, adzan berkumandang, dan kita menikmatinya suara lelaki tua
yang tak pernah kita temukan sebelumnya, dengan pujian yang sama dan nada yang
sama, mungkin itu termasuk rutinitas seperti kita-kita.”
“Berganti
menuju rutinitas pagi, setelah sholat kita berjalan menelusuri jalan-jalan
seperti para wisatawan, kadang itu juga membuat aku agak bingung, sebenarnya
kita ini mau belajar atau sekedar liburan...? hm.... tapi itu tak usah kita
pikirkan ada sesuatu di balik sesuatu, ah, konyol sekali.”
“Rutinitas tak
akan berganti, setiap pagi kita bersama menelusuri jalan dan gang-gnag, dan
banyak sekali yang kita temukan, ikan, kerupuk bungkusan, kopi, lebah, dan
masih banyak lagi, ah, Tuhan terlalu berbaik hati.”

“Setiap jam
delapan tiba kita kembali ke kamar keruang tamu yang telah di sediakan, masih
dengan rutinitas yang sama, kita masih bercanda dan tertawa padahal di bawah
sana banyak anak yang sudah berkumpul untuk belajar bersama. Kita SMSan
sesekali Fban sambil menunggu teman kita yang baru mandi, antri coy, gantian.”
“Jam setengah
sembilan sampai jam dua belas siang kita mengikuti kegiatan belajar mengajar di
sana, ini yang kita inginkan sebelumnya, kita ingin belajar menjacari pengetahuan,
eh, ternyata malah lebih sering keluyuran, ckckkckkc.”
“Setelah jam
belajar usai kita sholat dan cabut lagi keluar untuk makan siang, pastinya
dengan menu yang sama, di tempat yang saama seperti yang telah aku tulis
sebelumnya.”

“Di jalan-jalan
kita temukan suatu yang berkesan malam itu kita lapar, seperti biasa kita mencari
tempat yang istimewa. Kita terus berjalan berdiam di suatu tempat, kau ingat,
saat itu kita mengejar seseorang, bukan maling, copet atau perampok, tapi
sekedar kaum hawa, wah, kita bernar-benar meknakutkan, kita mengikutinya tanpa
ada maksud apa-apa dan semuanya berakhir dengan lari dan hilang jejejaknya.”
“Malam,
rutinitas tak terlupakan tak terlewatkan, di tengah sebuah kesibukan “tidur”
kita masih menyempatkan untuk tertawa bercanda bersama, kita maish ingatkan,
ketika Chipeng (Billy) bercerita, Ketika ia sudah mulai bercerita, ia
seakan-akan adalah Rendra di atas teaternya, menguasai seluruh panggung dengan
suara dan gerak-geriknya. Seringkali ia terlihat begitu konyol. Dia
memang pria penghibur, hahahaha suara tawa menggelegar dan itu rutinitas selama
kita ada di sana, adakah kalian masih mengingatnya, tawa kita berakhir sampai
jam satu atau jam dua, itu terus belalau rutinaitas kacau balau.”
“Kita masih
mempunyai serpihan-serpihannya di sana, ketika ada sebuah foto mesra antara
kita “maaf jangan ada yang tersinggung, ada juga foto bugil di dalam kamar
mandi, di intip cewek-cewek ketika kirta sedang makan bersama di warung atau
tempat yang sama, kita sering menjumpai banyak wanita dari pada pria, kiita
juga temukan buah coklat, pepaya yang berbentuk jeruk yang pasti itu khayal
adanya, namun itu semua nyata, kita pernah melewati dan menemukannya.”
“Kita juga
peranh foro bersama dengan jailangkung di pesantren yang nyentrik, kita temukan
ngajinya seperti kita saat berada dalam mushola untuk ngaji bersama.”
“Serpihan-serpihannya
masih terlihat jelas hingga suatu hari kita pamit untuk kembali ke markas.”
“Dengan satu
cindrea mata kita meninggalkan kota Salatiga, setelah sambutan yang begitu
hangatnya, orang-orang yang ramah tak terkira, kita pergi kurang lebih jam dua
siang, dan mulai saat itu mungkin orang-orang di sana merasak terbebaskan akan
hilangknya kita dari engerinya, tawa kita mungkin selalu mengganggu tidur
malam dan siangnya, tawa kita mungking selalu membuat takut anak-anak
kecil yang terbiasa bermain-main di sana.”
“Kita
tinggalkan kota kenangan kembali menuju istana Waskita, serpihan-serpihannya
ada di jalan-jalan, sampailah kita di kota semarang, bermalam di sebuah
mushola. Di sana kita jalan-jalan masuk mol dan gang-gang yang tidak kkita
kenal, malam semakin larut wanita-wanita penghibur menghiasi jalan-jalan kota
dengan suara lirih lelaki tua itu berpesan kepada kita “Dek, jam dua belas
malam jangan ada yang keluar” kita hanya mengiyakan.”
“Kita penasaran
karena nyamuk yang suaranya bagai suara balapan kita tak bisa tidur hingga
larut malam, jam 00:00 kita menengok keluar pagar, di jalan-jalan besar para
kupu-kupu malam berkeliaran seperti kelelawar, dari itu kita tahu mengapa bapak
tua itu berpesan ketika tengah malam tiba kita tak boleh keluar.”
“Nyamuk-nyamuk
itu masih bernyanyi suaranya bagaikan balapan motogp, hingga pagi menjelang mata
kita tak bisa kita pejamkan. Setelah sholat subuh akhirnya kita berpamitan,
dari stasiun Tawang Semarang kita menuju stasiun Bojonegoro.”
“Hari itu hari
jum’at tawa kita masih melekat, kekonyolan kembali kita lakukan, karena
kokrokokrokokrokokrokok suara yang tak jelas antara koro atau rokok itu kita
tirukan, kita sempat mau di pukuli orang, kita hanya diam kita akui kita salah,
itu sebuah pembelajaran, dan tawa kita tetap hidup seperti sedia kala,
kesedihan telah mati tak ada lagi rasa (sedih) di antara kita.”
“Perjalanan
panjang itu membawa kita kembali ke waskita, kita terapkan semua yang telah
kita dapatkan dari kota Salatiga.”
“Hari-hari
berlalu menuju satu masa, setelah kebersamaan itu ada kita jalani seiap
episodenya kini waktunya kita berpisah, perpisahan itu datang dan kita hanya
terus berjalan menuju keyakinan.”
“Kita kembali
ke tempat asal, kita kembali ke sekolahan dengan tidak melupakan sebuah
komunitas belajar Waskita, cerita itu cukup sudah kenangan indah terukirkan
sudah kini kita hanya tinggal mengambil pelajaran dari setiap detik-detik
episode kehidupan, banyak yang tidak tersiratkan tentang Waskita, tetapi paling
tidak kita telah ahu sebagian besar darinya, kita pernah bersama dan tak akan
melupakan kebersamaan itu begitu saja.”
“Kututup dengan
dua”
Dua yang berujung kekosongan
Tersimpan rapi dalam kesenangan
Berujar disetiap serat-serat puisi
Khafi, dan baru ku sadari dibulan mei
Dua yang membuatku cemburu
Ketika kebersamaan ini menjadi semu
Jabat tangan tak lagi kita temu
Apa lagi jabat hati
Sayang
Keyakinan berubah keraguan
dua yang menyentuhku
merubah iklim dan cuaca
panas dinginnya
menusuk qolbu-qolbu yang masih basah dengan airmata
dua yang tak bisa ku artikan
atau artinya tak bisa aku temukan
di sana aku masih mengingatnya
betapa mesranya dirimu dengan dirinya
dua yang membingungkanku
membimbing membangun membuangku
membawa membuat membuaiku
tunduk layu dalam bualanmu
dua yang tak bisa aku lupa
ketika rangkaian kata-katanya
mampu meresahkanku
cerita-ceritanya yang akan dikenang selamanya
kekonyolan yang tak akan hilang bgitu saja
dua yang tak hanya sebuah angka
di sana kau dilahirkan
cerita, derita, dan cinta
tak akan mudah terlupakan
ketika semua itu kau buat lebih berkesan
tentangku tentanmu tentang kita
dua yang setuju
setelah kekosongan itu berpindah tempat
terbagi menjadi satu per empat
tempat kau mengumpat
menyimpan cinta dalam serat
dua yang menjadi awal setiap rangkaian kata
dua yang ku tunggu
setelah perpishan itu
Dua
Malam itu malam minggu
Langit berwarna kelabu
Bintang itu menghilang rembulan itupun pergi
Dan aku berkata
Malam ini terasa sepi
Ada apa dengan hari ini
Dua......
Heningnya tak kunjung reda
Malam yang penuh dengan kemisterian
Mengigil dalam pandangan angin malam
Dua
Tak hanya malam namun juga paginya
Mendung menyelimuti hari ini
Tanpa sang mentari
Rintik-rintik hujan turun teratur
Membuat pandanganku tentangmu menjadi kabur
Dua
Membuatku bertanya-tanya tentang misteri di dalamnya
Dan ku temukan jawabnya di dalam dunia maya
Dua
Kita mulai bersama
Kau suguhi aku secangkir kopi hangat
Kau aduk dengan tawa-tawa mereka yang melekat
Di sana di sini
Di ruang yang penuh kekonyolan ini
Kita merajut hati dengan cinta dan kebencian yang terilustrasikan
Bukan karena dua juga bisa mendua
Tetapi langkah-langkahnya
Di gang-gang bisu yang mampu menjawabnya
Terlontar di hamparan salju hitam
Kita menari bernyanyi dan berdendang
Dua
Kita masih anak-anak
Belum pantas untuk saling menduakan
Tapi dua tetaplah dua
Kita ingat kawan
Dua itu
Yang mungkin aku dan kamu saling berebutan
Namun kita bersama-sama akan mendapatkannya
Dua yang akan kita bagi dua
Bersama tawa-tawa kita
Dua yang akan kita hidupkan lagi
Setelah dia mati suri.
Dua
Satu dan sembilan itu berlalu
Meninggalkanku meninggalkanmu
Dalam rasa resah dan haru
Dan aku akhirnya yang cemburu
02, mei 2013
Jawazim
membacanya penuh dengan penghayatan
Halaman demi
halaman telah terselesaikan mereka semua bingung dan mulai bertanya-tanya siapa
di antara kita yang menuliskannya. Semua saling pandang dan waktu datang dengan
sebuah warna, putih, semua menjadi putih hingga semuanya hilang dari
pandanganku dan aku sadar ketika aku bangun dari tidurku.
Aku bangun
dengan sebuah buku yang belum selesai ku tulis, Hah, ternyata hanya sebuah
mimpi, mungkin aku terlalu kangen dengan mereka, ku buka kembali bukuku yang
belum habis aku tulis itu, “Waskita Dalam Catatan Harian Kita” mungkin aku
terlalu serius menuliskannya hingga terbawa sampai alam mimpi yang penuh imaji.
Tuhan malam ini
kau suguhi aku mimpi yang ingin ku jadikan kenyataan.
Kawan.....
adakah mimpiku ini akan jadi kenyataan, adakan kita akan kembali bersama.
Kita tungggu
saja tanggal mainnya.....
Surabaya 08 Juli 2013
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.