Desa itu tiba-tiba dipenuhi
oleh kucing, di sudut-sudut manapun terdapat kucing, padahal dahulunya desa itu dikenal sebagai Desa anti kucing, dengan selogan “katakan tidak pada kucing” namun kini hampir semua
rumah ada sekitar seribu kucing, cerita tetang seribu kucing itu berawal dari Masri.
seperti blokeng dalam cerepenya Ahmad Thohari, Masri
hanyalah janda sebatang kara, janda tua yang lama ditinggal mati suaminya yang
sakit stroke karena kaget dengan kebijakan pemerintah yang selalu ekspor dan
ekspor, meski tinggal di pedesaan yang jauh dari kata moderen, desa Ngrayu tak
pernah ketinggalan berita tentang carut marutnya pemerintahan dalam negeri. Ditambah
lagi dengan berita tentang tertangkapnya ketua MK (mahkamah Konstitusi) yang
jelas-jelas konangan korupsi itu bagaikan taparan pedas untuk seluruh
rakyat Indonsia, tak terkecuali Masri dan kluarganya.

lambat laun kucinng itu bertambah banyak berliapat-lipat
sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan seratus. orang-orang di Desa heran,
bahkan tak jarang Masri disindir bahkan dihina dengan kadaanya itu. Tak jarang
juga para tetangganya bilang kalau Masri adalah orang gila atau sekedar
dimensia atau skizofrenia yang akhir-akhir ini diidap oleh mayoritas orang
Indonesia, sebab ditinggal oleh suami dan anakya.
Warga semakin resah dengan perilaku Masri, rutinitas
paginya hanyalah duduk santai dipinggir jalan menunggu tukang sayur lewat hanya
untuk membeli satu besek ikan pindang, terkadang dia juga harus berjalan
kaki menuju pasar untuk membeli ikan, yang jarak tempuhnya sekitar 3 km dari
rumahnya. Namun bukan itu yang membuat warga resah, tetapi karena perilaku aneh
Masri yang memberikan ikan pindang itu untuk kucing, sedang dia hanya makan
kepalanya bahkan tak jarang pula dia hanya makan sisa-sisa di piring bekas
makan kucing. dia lebih mengutamakan kucingnya dari pada dirinya.
![]() |
my.opera.com |
Satu persatu tetangganya mulai tak suka denganya bahkan
mereka mulai melarang anak-anak kecil mereka ke rumah Masri yang sedang
bermain-main dengan kucing-kucing kecil Masri yang lucu. mulai saat itu
orang-orang desa Ngrayu tak suka dengan kucing, hanya Masri yang memelihara
kucing.
"Dari
pada memelihara kucing mending melihara ayam toh Sri, itung-itung kalau ada kebutuhan bisa
dijual."
"he'em, setuju" ucap Minah menyetujui opini Sinah. "dari pada
awakmu melihara kucing, mending itu lo, anak-anak yatim, ngesakke ora ono seng ngurusi."
lanjut Minah.
"Ati-ati Sri, kucing biso nyebabno penyakit mengi lo
Sri". Jinah menambahi
“opo awakmu wes ora
waras tha Sri, kucing koq dipelihara manfaate
opo?,'' tanya
Wanah sinis.
Masri tetap diam, dia
seperti tidak mendengar perkataan-perkataan Minah dan kawan-kawan. malah Masri terlihat
sumringah dengan senyumnya yang merekah.
Masri tak menggubris
cibiran-cibiran tentangganya, dia tetap teguh pada pendiriaanya, " disetiap perut yang
basah itu terdapat pahala" ucapnya lirih.
Benar saja, kehidupan Masri semkin hari semakin berubah,
semakin banyak kucing yang ia pelihara hidupnya semakin terlihat mapan, bahkan
pohon-pohon yang ada disekitar rumahnya yang dulunya tidak berbuah kini menjadi
pohon yang subur, terus berbuah meskipun belum musimnya berbuah, pakaiannya
kini terlihat rapi kini dia bisa digolongkan sebagai masyarakat menengah,
dengan berbagai hiasan bunga di depan rumah, rumahnya pun kini tak lagi dari
merang dan anyaman bambu, semuanya berubah drastis, kini gubuk yang ia tinggali
telah berubah menjadi istana, rumahnya kini berantai dua. mungkin inilah
pahala, balasan dari yang Mahakuasa.
Dengan keadaan Masri yang sperti itu tetangganya pun
mulai heran, orang-orang yang dulunya membenci Masri bahkan yang menghina dan
mencibirnya seperti Minah dan kawan-kawannya kini sering datang sekedar namu di
rumah Masri, tak heran, karna hanya rumahnya Masri yang ber ace, orang-orang
merasa betah disana apalagi setiap tamu dirumahnya selalu di jamu dengan
hidangan yang istimewa.
Rumah Masri menjadi ramai, bukan hanya karena kucing,
meski kucingnya kini telah mencapa 1000 ekor, namun juga karena para
manusia-manusia yang silau dengan harta. Masri kini tidak lagi dibenci oleh
orang-orang desa, kini tak jarang pula orang-orang meminjam uang kepada Masri, Masri
berubah menjadi orang yang disegani di desanya.
sebulan sekali Masri membagi-bagi hasil panen buah yang
ada di pekarangannya tak lupa juga membagi-bagi amplop berisi uang limapuluh
ribuan kepada tetangganya.
orang-orang desa benar-benar iri dengan Masri, orang yang
sempat dihina dan dicela kini berubah menjadi orang yang di hormati. Satu demi
satu orang desa itu mencari tahu resep rahasia kenapa masri bisa menjadi kaya.
"Aneh, Masri itu ndak pernah kerja tapi kok
bisa kaya, lha, kita-kita ini yang suaminya sak mbukak,e mripat kerja
terus, tapi tetap saja jadi orang miskin." ucap Marsiyem ngrumpi.
"lho, opo Masri iku melu pesugihan...?"
"hus! lambemu iku mbok yao dijogo Mar," tegur Sariyem
kepada Marsinah.
"ya sudah, begini saja, ayo kita datang ke rumahnya Masri, kita tanya bagaimana dia bisa menjadi kaya
seperti ini." ucap Marsiyem
menengahi.
Segerombolan ibu-ibu
pun pergi ke rumah Masri
seperti ada acara arisan.
"Sri, sebelumnya kami minta maaf, kami kesini hanya
mau bertanya, resepnya apa kamu kok bisa kaya seperti ini?" Marsiyem mulai pembicaraan.
Sejenak terdiam, hanya
terdengar bisik-bisik yang tak jelas dari mulut ibu-ibu itu, lalu Masri tersenyum dan berucap. "Aku namung kelingan
dawuh,e Kanjeng Nabi, "disetiap perut yang basah
itu terdapat pahala" mungkin karena aku terlalu banyak memelihara perut yang basah"
ucap Masri
dengan pandangan kosong.
"Perut yang basah, apa itu perut yanng basah? maksud
kamu kucing, kita harus ikut memelihara kucing seperti kamu untuk menjadi
kaya?" tanya Marsinah menggebu.
"Mungkin!"
ucap Masri
singkaat.
Keesokan harinnya orang-orang desa datang ke rumah Masri
untuk minta kucing, hingga seribu kucing yang dimiiki masri habis, sejak itulah
desa Ngrayu dipenuhi kucing, desa Ngrayu
yang sempat anti kucing kini benar-benar dipenuhi oleh kucing, di sana sini ada
kucing, hanya rumahnya Masri yang kini tidak ada kucingnya.
![]() |
flexmedia.co.id |
Orang-orang percaya terhadap perkatan Masri, merekapun
juga ingin kaya seperti Masri yang karena memelihara kucing-kucing. keinginan
mereka pun jadi kenyataan, uang mereka mendadak menjadi banyak, ekonomi mereka
naik, segala kebutuhan mereka tercukupi, panennya melimpah, hingga semuaanya
percaya kalau kucing-kucing itu membawa berkah, tak hanya sepuluh atau dua
puluh ekor kucing per rumah, tapi setiap rumah kini minimal mempunyai ratusan
kucing, mereka yakin semakin banyak kucing yang mereka pelihara maka semakin
lancar rizki mereka.
Kini semua profesi ditinggalkan, bahkan para gurupun
ikut-ikutan gila kucing, hingga semua berhenti menjadi guru, karena gaji mereka
sebagai guru masih tak sebanding dengan penghasilan menjadi pemelihara kucing,
tak ada profesi lain selain memelihara kucing, sekolahpun terpaksa bubar.
rumah-rumah mereka sudah seperti istana, kini tak ada lagi hamparan tanah,
semuaanya dipenuhi oleh lantai atau paving, hingga terpaksa untuk tempat pembuangan
kotoran kucing-kucing itu orang-orang harus membeli pasir kucing, pasar hewan
yang mula-mula sepi sekarang menjadi ramai hanya karena orang-orang yang
membeli pasir kucing, sepertinya kucing-kucing itu memang membawa berkah.
Tak hanya harus
membelikan pasir kucing, kini orang-orang juga harus membelikan makanan kucing,
stok pindang habis, terpaksa untuk mencukupi makanan kesehariannya mereka harus
rela membeli makanan kucing seperti pur yang harganya bervariasi.
Orang-orang desa semakin kaya, benar saja, semakin banyak
kucing yang mereka pelihara maka semakin cepat kekayaan yang mereka punya,
semakin banyak kucing mereka semakin sibuk, bahkan anak-anak mereka
ditelantarkan, anak-anak yang harusnya masih sekolah kini tak ada yang lagi
sekolah, karena tak ada yang mau menjadi guru.
melihat kelakuan orang-orang
desa yang seperti itu, Masri hanya mengelus dada dan bilang" Gusti
Pangeran, kini semuanya sudah tahu to, siapa yang gila, siapa yang sinting,
hanya karena kucing rela menelantarkan anaknya, membiarkan luntang lantung,
yang waktunya sekolah malah kluyuran, kini siapa yang gila, siapa yang
dimensia, siapa yang terkena skizofreenia" ucapnya bagaikan salam penutup,
dia pergi entah ke mana, rumah mewahnya ditingal begitu saja, kini mereka tahu,
siapa yang benar-benar gila, Masri dan seribu kucinnya hanya perantara ujian, Masri
dan seribu kucingnya hanyalah takdir episode yang Tuhan ciptakan. Masri hilang dengan seribu kucingnya.
![]() |
lovemeow.com |
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.