Breaking News
Loading...
Tuesday, April 19, 2016

Nabi Adam as. Diturunkan di Indonesia?

8:54 AM



عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ أَتَى الْبَيْتَ أَلْفَ أَتْيَةٍ لَمْ يَرْكَبْ قَطُّ فِيهِنَّ مِنَ الْهِنْدِ عَلَى رِجْلَيْهِ "
Dari Ibnu Abbas r.hu. beliau meriwayatkan bahwasanya Rosululloh saw. bersabda, “Sesungguhnya Nabi Adam as. telah pergi haji dari Hind ke Baitulloh sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki tanpa pernah berkendara walau sekalipun.
Pemahaman Hadis
Atâ adalah fi’il madli atau kata kerja lampau yang artinya datang atau berkunjung. Maksudnya, Nabi Adam as. telah mengunjungi “Baitulloh”.
Alfu atyatin artinya seribu kali perjalanan. Lam yarkab artinya tanpa menggunakan tunggangan atau tanpa berkendara.
Sedangkan al-hind adalah nama daerah atau tempat. Maka sungguh Nabi Adam as. dari Hind telah berkunjung ke Baitulloh sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki tanpa pernah berkendara walau sekalipun.
Risalah Luthfiah
Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi Adam berasal dari Hind, Nabi Adam diturunkan di Hind dan tinggal di Hind. Seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul Umal karya al-Hind bahwasanya sahabat Ali kw. mengatakan: “Bumi yang paling wangi adalah tanah al-Hind, di sanalah Nabi Adam as. diturunkan dan pohonnya tercipta dari wangi surga”.
Manakah yang dimaksud al-Hind dalam hadis di atas? Banyak dari para penerjemah memaknai kata al-Hind di atas adalah India, begitu juga dalam hadis-hadis Nabi yang lain, kata al-hind selalu diartikan sebagai India. Padahal jika kita mau meneliti lebih detail lagi hadis-hadis Rosululloh yang berkaitan dengan kata al-hind, maka kita akan menemukan kesimpulan, bahwa yang dimaksud kata al-hind bukanlah india, namun lebih dekat “tepat” dengan Hindia (Indonesia).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan dari Jabir r.hu. bahwasanya Rasululloh saw. bersabda: “Wahai seluruh perempuan, jangan bunuh anak-anak kalian! Dan siapa saja perempuan yang terkena sakit udzroh dan terkena sakit kepala, maka gunakanlah Qosth Hind “kayu ‘Aud dari al-Hind” untuk obat.”
Apa itu Kayu ‘Aud dari al-Hind? Yang dimaksud kayu ‘Aud adalah kayu gaharu. Seperti yang terdapat dalam kitab sunan Abu Dawud no 3379 beliau menyampaikan, “Dari 'Ubaidillah bin Abdulloh dari Ummu Qois binti Muhshon ia berkata, "Aku pernah menemui Rasululloh saw. membawa anakku yang telah aku obati dari penyakit radang kelenjar leher (amandel). Kemudian Beliau berkata: "Atas dasar apakah kalian menekan dan mengangkat tenggorokan anak kalian dengan mengangkat dagu mereka? Hendaknya kalian menggunakan Qosth Hind, karena sesungguhnya padanya terdapat tujuh macam obat, diantaranya adalah obat penyakit tulang rusuk, digunakan sebagai obat radang amandel yang dimasukkan dari hidung, serta obat penyakit rusuk yang dimasukkan lewat mulut." Abu Daud berkata, "Yang dimaksud dengan Qosth Hind atau ’Aud adalah gaharu."
Gaharu merupakan kayu khas indonesia. Gaharu dapat tumbuh subur pada tempat yang memiliki ketinggian 1.200 meter di atas ketinggian air laut atau lebih. Kayu Gaharu banyak tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. Orang-orang dahulu sudah banyak yang mengenalnya, bahkan sudah banyak yang menggunakannya sebagai obat, wangi-wangian dan lain sebagainya.
Dalam hadis lain juga dijelaskan. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.hu. mengatakan bahwa seorang raja dari al-Hind telah mengirimkan kepada Nabi saw. sebuah tembikar yang berisi jahe. Lalu Nabi saw. memberi makan kepada sahabat-sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi saw. pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu. (Hr. Hakim).
Tembikar merupakan alat keramik yang dibuat oleh pengrajin. Tembikar dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu obyek. Tembikar ini telah ada sejak masa pra sejarah. Tembikar merupakan perabotan khas yang dimiliki oleh raja-raja di Indonesia. Bahkan pada situs-situs arkeologi di indonesia, telah ditemukan banyak tembikar yang berfungsi sebagai perkakas rumah tangga atau keperluan religius seperti upacara dan penguburan.
Begitu juga dengan jahe, hampir semua rempah-rempah merupakan tanaman asli Indonesia. Hal ini juga dikuatkan dengan bukti otentik dari surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya Sri Indrayana kepada  Kholifah Bani Umayyah serta kholifah Umar bin Abdul-Aziz yang di dalamnya terdapat kalimat kayu gaharu serta berbagai macam rempah.
Dari beberapa hadis dan kerterangan di atas kita tahu bahwa gaharu, tembikar, serta rempah merupakan khas Indonesia, yang sejak jaman dahulu sudah dimiliki dan digunakan oleh nenek moyang kita. Maka dari hadis, keterangan serta bukti di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata al-Hind dalam hadis Rosululloh tersebut lebih dekat “tepat” jika diartikan Indonesia dari pada India. Wallohu a’lam.
*Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya, bab ‘Adada Hajji Adama as. Wa Shifatu hajjihi, juz VI, halaman 245, hadis nomor 2792. Terdapat juga dalam Kitab al-Matjarur Robih (cetakan Dar El Hadith tahun 2004), bab Tsawabu Man Hajja Masyiyan Min Makkata, halaman 210, hadis nomor 813.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer