مَنْ يَتَقَبَّلُ لِي بِوَاحِدَةٍ
وَأَتَقَبَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ ؛ اَنْ لَا يَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا
Barangsiapa
menerima suatu hal dariku, maka aku akan memberinya surga. janganlah kamu meminta sesuatu kepada siapapun.
Pemahaman Hadis
An adalah amil nawasikh, yaitu kata yang me-nashob-kan
mubtada’ menjadi isimnya dan me-rofa’-kan khobar menjadi khobar-nya.
Lâ adalah lâ nahi yaitu huruf yang mengandung
makna larangan. Yas`ala adalah fi’il mudlori’, dibaca nashob
karena berkedudukan menjadi mubtada’nya inna (An) yang fa’ilnya
tersimpan yang kembali kepada kata man. Lâ yas`ala artinya
jangan meminta.
Ahadan artinya siapapun. Ahadan dibaca nashob
karena berkedudukan menjadi maf’ulnya (objeknya) yas`ala.
Maka sungguh Nabi melarang seseorang untuk meminta
apapun kepada siapapun. Beliau menjamin surga bagi orang yang dapat
memraktikkan hadis tersebut
Risalah
luthfiah
Hadis
di atas menegaskan bahwa Rosululloh saw. melarang siapapun meminta sesuatu
apapun kepada orang lain. Dan jelaslah bagi orang yang dapat memraktikkannya,
yaitu pahala berupa surga.
Asbabul
wurud hadis. Diceritakan dari
Yazid bin Harun dan Abu An-Nadhr keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami
Ibnu Abi Dzi`b dari Muhammad bin Qois dari 'Abdur Rohman bin Mu'awiyah
dari Tsauban, pelayan Rosulullah saw. dia
berkata; Rosulullah saw. bersabda; "Barangsiapa menerima suatu hal
dariku, aku akan memberinya surga." Maka Tsauban pun berkata; Saya wahai Rosulullah.
Dan Rosulullah saw. bersabda; "Jangan meminta-minta apapun pada
siapapun." Setelah mendapat hadis tersebut Tsaubanpun
memraktikkannya, bahkan ketika Tsauban naik tunggannya dan cambuknya jatuh, dia
tidak berkata pada siapa pun “Ambilkan”. Hingga dia turun dan mengambilnya
sendiri.
Manusia memang makhluk
sosial, artinya manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri atau individu,
namun manusia diciptakan untuk selalu berinteraksi dengan sesamanya, saling
melengkapi dan tetap tolong-menolong. Meski demikian, bukan berarti manusia
diciptakan untuk saling meminta-minta.
Dinul islam mengajarkan untuk
saling tolong menolong dalam kebaikan, bukan mengajarkan untuk saling
meminta-minta seperti kalamulloh dalam surat al-Maidah Ayat 2 yang artinya:
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya”.
Maka sangat
dianjurkan kepada kita muslimin-mukmin untuk saling tolong menolong dalam hal
kebaikan. Namun ada larangan bagi kita untuk meminta-minta. Rosululloh
menegaskan dalam sebuah hadisnya.
“Terus-menerus seseorang itu
suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam kondisi
di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (Hr. Bukhori Muslim)
Umat
Rosululloh di-setting untuk mandiri, sebisa mungkin melakukan sesuatu tanpa
meminta-minta kepada orang lain, kalaupun ingin meminta sesuatu semuanya
diserahkan kepada Alloh. Karena hanya Allohlah yang berkuasa atas segala
sesuatu.
Maka
jelas, Allohlah sandaran orang mukmin,-muslim, bukan yang lain. Sungguh rugi
orang yang suka menceritakan problem kehidupannya kepada orang lain. Sungguh
tidak ada faedahnya orang yang suka curhat kepada orang lain. Tempat bersandar
hanyalah Alloh, mintalah sesuatu apapun kepada Alloh. Ketika kita menceritakan
masalah kita kepada orang lain, yakinilah bahwa orang itupun juga sedang punya
masalah. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak punya masalah. Maka
sangat lucu apa bila ada orang yang bermasalah ingin menyelesaikan masalahnya
dengan mendatangi orang yang sedang bermasalah pula.

Sungguh
sangat patut untuk kita contoh apa yang telah sahabat Tsauban kerjakan. Setelah
mendengar hadis yang disampaikan Nabi tersebut, dia langsung memraktikkanya,
bahkan dalam hal kecilpun tetap dia tidak minta tolong kepada orang lain.
Niati
karena Alloh dan Rosululloh, mulai dari diri sendiri tanpa berkoar-koar
menyuruh orang lain melakukannya. Kita awali dari diri sendiri, mencoba
melakukan apapun tanpa meminta kepda orang lain, entah itu berupa pertolongan,
materi atau yang lainnya.
Maka
jelas, hadis di atas mengajarkan kepada kita untuk selalu memperkuat tauhid
kita, keyakinan kita, kepasrahan kita kepada Alloh semata, mengembalikan apapun
kepada Alloh yang menciptakan. Bahkan telah Rosululloh ajarkan. Jika kita merasa
berat akan sesuatu, hendaknya kita cepat ambil air wudlu, sholat dua roka’at
dan mengadukan semuanya kepada Alloh. Karena sejatinya hanya Allohlah tempat
kita meminta, karena Dia yang menciptakan, membuat ujian sekaligus yang
memberikan jalan keluar. Barokalloh....
*Hadis ini
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman, bab Fashlun Fil
Isti’fafi ‘Anil Mas`alati, juz III, halaman 272, hadis nomor 3520.
0 komentar:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.